22 Oktober 2011

Spesialisasi Ilmu Penyebab Pola Pikir Yang Sempit

I. PENDAHULUAN
Dalam kehidupan saat ini terasa sekali adanya pengkotak-kotakan dalam berbagai sektor atau bidang kehidupan. Kotak-kotak itu bagaikan sekat-sekat yang membatasi bahwa setiap sektor atau bidang kehidupan merupakan satu keutuhan tersendiri, bahkan seperti tidak mempunyai relasi dengan sektor atau bidang kehidupan lain.

Kondisi tersebut juga terjadi pada ilmu pengetahuan. Di sekolah setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), pendidikan sudah  terbagi menjadi dua yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Kedua ilmu pengetahuan tersebut kemudian dibagi-bagi kembali IPA menjadi kelas Fisika dan Biologi, sedangkan IPS menjadi sosial dan budaya. Setelah di perguruan tinggi pembagian ilmu (spesialisasi) akan lebih dalam lagi. Misalkan untuk kedokteran masih dibagi-bagi kembali menjadi spesialisasi-spesialisasi tersendiri.

Kalau kita bersedia untuk mempelajari kehidupan manusia secara mendalam, maka akan terlihat bahwa di satu pihak terjadi pembentukan spesialisasi yang makin banyak karena dimungkinkan oleh makin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi di pihak lain kita juga mengamati bahwa kehidupan hanya menjadi bermakna apabila ada integrasi antara sekian banyak spesialisasi. Dewasa ini fenomena itu menjadi makin jelas dan terasa keperluannya apabila ingin mencapai kehidupan yang bermutu.

Tulisan ini bertujuan untuk membahas permasalahan bagaimana spesialisasi ilmu dapat menyebabkan pola berpikir dan wawasan yang sempit. Lebih dari itu penulis berharap dapat memberikan memberikan solusi dari permasalahan tersebut.

II.    METODE PENULISAN
Metode yang digunakan untuk menyelesaikan tulisan ini adalah Studi Literatur. Bahan-bahan sumber tulisan dikumpulkan dari berbagai literatur yang ada di Internet, karya tulis, serta bahan ajar perkuliahan yang relevan. Beberapa bahan tulisan sengaja dikutip langsung dari sumbernya dan yang lain menjadi dasar pemikiran dalam penyusunan tulisan ini.

III.   PEMBAHASAN
A.   Pengaruh Pemikiran Dunia Barat
Modernisasi merupakan satu sikap hidup yang telah diterima oleh bagian terbesar umat manusia yang menginginkan kehidupan yang lebih sejahtera dan lebih bermakna. Sedangkan modernisasi adalah hasil dari Renaissance yang terjadi di dunia Barat dalam abad ke 15 dan 16, dan diikuti oleh berkembangnya Rationalisme. Merupakan satu kenyataan bahwa kehidupan umat manusia masa kini sangat dipengaruhi oleh cara berpikir yang dihasilkan oleh dunia Barat. Meskipun tidak dapat disangkal bahwa peradaban Islam dan Cina mempunyai pengaruh terhadap terjadinya Renaissance di Barat, namun yang terjadi di dunia Barat adalah sesuatu yang berdiri sendiri.

Perkembangan cara berpikir Barat setelah itu mengutamakan cara berpikir analitik yang menjadi sumber perkembangan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Kemampuan manusia untuk mendalami sesuatu melalui analisa memungkinkannya untuk makin banyak mengetahui tentang hal-hal baru yang makin mendalam tetapi juga makin sempit ruang lingkupnya. Agama dan Filsafat melihat kehidupan secara menyeluruh. Akan tetapi ilmu pengetahuan mendatangkan penguasaan atas berbagai spesialisasi yang makin sempit sekalipun makin seksama.

Terbentuk spesialisasi yang makin besar ragamnya seperti terjadi dalam kemampuan membedah tubuh. Semula membedah tubuh merupakan satu spesialisasi dalam ilmu kedokteran. Akan tetapi makin lama terjadi makin banyak cabang dalam spesialisasi bedah, seperti bedah jantung, bedah otak dan sebagainya yang masing-masing menghasilkan spesialisasinya sendiri. Hal serupa terjadi dalam perkembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan.


 Gambar 1. Pohon Ilmu Pengetahuan

B.   Tingkat Kedalaman Ilmu Pengetahuan
Dalam ilmu pengetahuan dikenal istilah Generalis, Spesialis, dan Versatilis. Masing-masing istilah tersebut menjelaskan karakter seseorang tentang kedalaman ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Generalis : adalah orang-orang yang tahu akan banyak hal, tapi pengetahuan ini hanya melingkupi "kulit luar" dari hal-hal yang diketahui, atau dalam ungkapan yang sudah saya sebutkan diatas adalah tahu sedikit tentang banyak hal. "Generalis adalah orang yang tidak mendalami bidang khusus atau tidak mendapatkan pembinaan khusus. Generalis ini bisa lahir dari sekolah atau pengalaman. Orang generalis mengetahui sedikit hal tentang banyak hal. Lazimnya, generalis itu terkait dengan keahlian administratif dan manajemen. 

Spesialis : adalah orang yang memiliki keahlian khusus di bidang tertentu yang bisa di peroleh dari training khusus/pendidikan khusus untuk bidang yang khusus pula. Ada juga spesialis yang melalui proses non-formal, misalnya saja melalui pengalaman atau kreativitas diri (self-creativity). Berbeda dengan Generalis yang mengetahui sedikit hal tentang banyak hal, Orang Spesialis mengetahui banyak hal tentang sedikit hal. Lazimnya, spesialis ini terkait dengan keahlian teknik atau profesional.

Versatilis : Menurut The Gartner Group, konsultan teknologi terkemuka di Amerika (2006), secara harfiah versatilis berarti orang yang serba bisa. 
  1. Versatilis bukan seorang generalis yang mengenal semua bidang dan teknologi tapi hanya kulitnya (dangkal).
  2. Versatilis juga bukan spesialis yang hanya mengerti cakupan bidang yang sempit, meskipun dalam.
  3. Versatilis adalah seorang spesialis yang berpikir lebih luas, berwawasan, matang, penuh perhitungan, mengerti tentang bisnis, orientasi kerja untuk memberi solusi, mampu bekerjasama (membangun networking) dengan semua orang, dan yang pasti tidak mengkotakkan dirinya pada sebuah teknologi, tool atau platform.

Versatilis mampu mengkombinasikan kompetensi dan keahlian teknis, dengan pengalaman dan kemampuan memberikan solusi komprehensif. Namun, Versatilis tidak bisa terlahir secara tiba-tiba, tapi harus melalui tahapan dan pengalaman matang menjadi seorang spesialis. Seorang Versatilis merupakan seorang spesialis yang ‘bertransformasi’ untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

C.   Permasalahan Dalam Spesialisasi Ilmu Pengetahuan
Ada kesalahan pola pikir bahwa berspesialisasi dalam ilmu pengetahuan itu tidaklah sama dengan hanya membatasi diri pada bidang materi khusus, terpisah sama sekali dari yang lain. Ilmu-ilmu pengetahuan itu memang berlainan satu sama lain,  karena metodenya yang berbeda-beda, obyek yang diselidikinya dan tujuan dari ilmu itu sendiri.

Ilmu pengetahuan tidak seluruhnya setelah diterapkan bermanfaat bagi manusia bahkan ada yang sebaliknya mengancam manusia. Spesialisasi memang perlu demi perkembangan ilmu itu sendiri dan demi ringannya beban manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan. Rasanya memang tidak mungkin seorang jenius sekalipun untuk memahami dan menguasai semua ilmu pengetahuan yang tumbuh dewasa ini.

Tiap-tiap ilmu pengetahuan mempunyai cara sendiri untuk mengamati, mengadakan eksperimen, mempunyai hipotesis dan teorinya sendiri serta mempunyai bahasanya sendiri. Karena itu banyak ilmu pengetahuan yang saling berdampingan, yang masing-masing mempunyai cara sendiri untuk memetakan kenyataan, tetapi peta-peta itu tidak bisa dihubungkan satu sama lain untuk memperoleh ikhtisar tentang kenyataan.

Spesialisasi dapat juga memberikan dampak yang berbahaya bagi manusia karena adanya keterasingan. Bahkan dampak yang paling berbahaya adalah terbelenggunya seseorang oleh ilmunya yang sempit. Banyak sekali permasalahan di jaman ini yang begitu komplek sehingga tidak bisa ditangani oleh satu spesialisasi ilmu tertentu.

D.   Pemikiran Kompromi
Manusia modern kemudian sering kehilangan kemampuan melihat permasalahan dari perspektif yang luas. Ibarat dongeng seorang      tunanetra yang mengira buntut gajah yang dirabanya mewakili binatang gajah yang sebenarnya. Apakah spesialisasi itu perlu? Tentu saja, spesialisasi sangat dibutuhkan. Ia adalah bagian dari upaya  pendalaman terhadap materi ilmu sedalam-dalamnya. Hanya saja, kebutuhan terhadap spesialisasi itu jangan didasari oleh sikap arogansi, misalnya karena merasa lebih spesialis dari lainnya. Selain itu, kebutuhan kepada spesialisasi juga jangan mematikan konsep berpikir holistik dan sesuai bakat sistem syaraf manusia itu sendiri.

Spesialisasi adalah kebutuhan wajar manusia. Setiap kita menghadapi masalah-masalah yang bersifat praktis, pasti membutuhkan spesialisasi. Misalnya seorang profesor yang ahli di bidang pemikiran, filsafat, sejarah, dan Sosiologi. Saat dia menghadapi masalah komputer rusak, mesin mobil macet, talang bocor, pompa air ngadat, listrik konslet, pakaian robek, dan sebagainya. Saat itu dia pasti butuh spesialis yang bisa membantunya bekerja secara teknis. Tidak mungkin rasanya, untuk menghadapi semua itu kita hanya bermodal teori-teori yang bersifat global. Jadi, spesialisasi itu kebutuhan riil manusia, khususnya ketika berhadapan dengan masalah-masalah praktis.

Di tengah zaman super spesialisasi, orang yang mampu berpikir dan memiliki pengetahuan secara holistik kian dibutuhkan. Sayangnya, sedikit orang yang dikaruniai bakat ataupun memiliki kesempatan semacam ini. Tokoh yang sungguh piawai dalam bidangnya biasanya justru bijak dan mampu berkomunikasi dengan bahasa yang universal melintasi batas bidang keahliannya sendiri. Einstein misalnya, merupakan salah satu contoh tokoh macam ini. Pakar semacam ini memiliki kemampuan berharga, tapi langka, untuk mengabstraksi permasalahan yang rumit menjadi penjabaran yang gamblang, di mana prinsipnya diungkapkan dengan bahasa yang sederhana.

Dilema yang dihadapi adalah sedikitnya orang dengan kemampuan istimewa semacam itu. Sebaliknya, kebanyakan di antara kita      terperangkap dalam labyrinth semu oleh tuntutan spesialisasi abad     modern kini. Mayoritas orang pun tak memiliki kemampuan bakat semua bidang dan biasanya memiliki keahlian terbatas. Salah satu kemungkinan pemecahannya, bekerja secara interdisipliner, di mana tiap orang dengan spesialisasi keahlian dapat bertukar pikiran. Bak semacam kompromi antara pola keutamaan pemikiran menyeluruh dan tuntutan spesialisasi. Sistem kerja diharapkan tiap anggota regu membawa keunikan sekaligus kelebihan dari segi keahlian. Kerja sama regu (team work) macam ini hanya mungkin selama para anggota menyadari kepentingan komunikasi yang mampu menjembatani perbedaan antara bidang spesialisasi itu. Kemampuan penyampaian gagasan dengan jernih, yang lepas dari kungkungan jargon spesifik keilmuannya, mutlak diperlukan. Wawasan luas akan ragam pandangan dan pola budaya merupakan kunci untuk berinteraksi secara bernas.

Kesadaran akan kepentingan pandangan beragam itu tak lain merupakan salah bentuk pencerminan dari kecenderungan akhir dalam budaya masa kini. Salah catu ciri mendasar dari masa sekarang, yang sering dijuluki periode pascamodern, adalah sifat majemuk tadi. Pluralitas itu menyangkut dari aspek mendasar seperti sistem nilai abstrak kebenaran hingga aspek kehidupan praktis sehari-hari.

IV.  PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut :
  1. Telah terjadi perubahan dalam pemikiran umat manusia yang semula berorientasi pada Individu dan Bagian, sekarang menyadari bahwa perlu ada harmonisasi dalam Kebersamaan dan Keseluruhan. Pengutamaan pada Spesialisasi sekarang harus disertai dengan Integrasi dan Interaksi antara setiap Spesialisasi. Itu semua menimbulkan perlunya pendekatan Holistik di samping Analitik.
  2. Spesialisasi adalah kebutuhan wajar manusia terutama setiap menghadapi masalah-masalah yang bersifat praktis karena mayoritas orang tidak memiliki kemampuan bakat di semua semua bidang dan biasanya memiliki keahlian terbatas.
B. Saran
  1. Perlu adanya perubahan sistem pendidikan baik formal maupun non-formal yang memberikan arahan pentingnya berpikir holistik dan interdisiplin  sehingga tidak terjebak dalam kerangkeng spesialisasi.
  2. Kemampuan manusia terbatas sehingga harus bekerja secara interdisipliner, di mana tiap orang dengan spesialisasi keahlian dapat bertukar pikiran.
DAFTAR PUSTAKA  
  1. AM. Waskito, “Konsep Berpikir Holistik”, http://abisyakir.wordpress.com/2008/11/06/special-prize-konsep-berpikir-holistik/, 5 November 2008.
  2. Andre Yosea, “Perbedaan Generals, Spesialis, dan Versatilis”, http://andreyosea.blogspot.com/2010/01/perbedaan-generalis-spesialis-dan.html, 13 Januari 2010.
  3. Dewi, “Masalah Ilmu Pengetahuan, Sekitar Teknologi dan Dimensi Moral” http://dewi.students-blog.undip.ac.id/2009/05/29/masalah-ilmu-pengetahuan-sekitar-teknologi-dan-dimensi-moral/, 29 Mei 2009.
  4. Naib D Parvez, “Pohon Ilmu Pengetahuan”, http://naibparvez.blogspot.com/2011/05/pohon-ilmu-pengetahuan. html, 15 Mei 2011.
  5. Ryadi Adityavarman, “Pendidikan Arsitektur dan Mitos Pencipta Tunggal”, OPINI, Surabaya Post, 2 November 1996.
  6. Sayidiman Suryohadiprojo,  “Abad Ke-21 Dalam Pendekatan Holistik Di Bidang Pendidikan Nasional”, http://sayidiman.suryohadiprojo.com/?p=1148, 23 December 1998.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca juga