20 November 2010

Mengapa Orang Suka Film Horror

Siang ini aku mengantar istri ke Pasar. Entah kenapa kali ini rasanya malas banget kalau harus ikut membuntuti sampai ke dalam pasar. Aku lebih senang menunggu di luar pasar. Iseng-iseng aku melihat-lihat pedagang DVD di emperan. Siapa tahu ada beberapa film yang lumayan bagus buat ditonton akhir minggu ini. Setelah bongkar sana bongkar sini dapat dua keping yang cukup menarik. Aku baru sadar bahwa dua-duanya adalah jenis film horror.
 Aku jadi berpikir, mengapa orang-orang suka dengan film horror? Sangat banyak orang-orang akan dengan sukarela membenamkan diri mereka selama hampir dua jam dalam  suasana ketakutan, menjijikkan dan teror. Kenapa orang-orang mau membayar ini? Bagaimana hal ini dapat disebut menyenangkan? Coba anda lihat sederet film Indonesia yang dibuat saat ini. Sebagian besar adalah film horror! Jangan-jangan pada sakit jiwa, termasuk tentunya juga aku… Hahahaha…

Aku mencoba searching di Google, mungkin ada teori yang sedikit ilmiah yang dapat menjelaskan hal tersebut. Para peneliti umumnya menggunakan salah satu dari dua teori yang menjelaskan mengapa orang-orang menyukai film horror. Teori pertama menjelaskan bahwa orang-orang sebenarnya tidak benar-benar ketakutan, tetapi justru menikmati film tersebut. Teori kedua menjelaskan bahwa mereka memang mau merasakan perasaan tegang atas terror ataupun ketakutan dalam film tersebut untuk satu tujuan yaitu menikmati satu perasaan yang sangat gembira atas pembebasan/ penyelesaian pada akhir cerita.

Tapi, satu penelitian baru oleh Eduardo Andrade (University California, Berkeley) dan Joel B. Cohen (University Florida) muncul pada bulan Agustus 2007 dengan keluarnya sebuah Jurnal dari Riset Konsumen yang menyatakan bahwa tidak satupun dari teori tersebut yang benar.

"Kita percaya bahwa perlu adanya evaluasi kembali dua penjelasan-penjelasan tersebut tentang kesediaan orang-orang untuk mengkonsumsi pengalaman-pengalaman "negatif" (ketakutan/ketegangan). Kedua-duanya berasumsi bahwa orang-orang tidak bisa mengalami pengalaman negatif dan emosi-emosi positif secara serempak, selalu dalam urutan," kata Andrade dan Cohen di dalam studi mereka. "Asumsi ketidakmampuan orang-orang untuk merasakan pengaruh pengalaman negatif dan positif pada waktu yang sama adalah salah."

Pengarang-pengarang Novel membantah bahwa penonton film horror mengalami kondisi dari keadaan bahagia kemudian menjadi tidak bahagia. Dalam Novel terungkap bahwa orang-orang dapat mengalami emosi positif dan negatif secara serempak. Orang-orang dapat benar-benar menikmati ketakutan, tidak hanya pada saat kondisi ancaman/ketegangan berakhir dalam cerita. Saat terjadi peristiwa yang paling menyenangkan bisa saja hal tersebut sekaligus adalah sesuatu yang paling menakutkan."

Andrade dan Cohen mengembangkan dan menggunakan satu metodologi baru untuk menjejaki hal negatif dan perasaan-perasaan positif pada waktu yang bersamaan. Metoda mereka bisa berlaku bagi pengalaman-pengalaman lain yang yang dapat menimbulkan perasaan tegang, resiko, atau menjijikkan, seperti olahraga-olahraga ekstrim.

Sumber: Eduardo B. Andrade dan Joel B. Cohen. Eduardo B. Andrade and Joel B. Cohen. "On the Consumption of Negative Feelings" Journal of Consumer Research: August 2007

1 komentar:

  1. Saya adalah penakut,tapi saya juga tidak tahu kenapa film horor adalah film favorit saya.

    BalasHapus

Baca juga