11 April 2008

Antara Inul dan Lumpur Sidoarjo

Melihat tayangan di TV yang masih menyajikan bencana Lumpur Sidoarjo, jadi teringat pembicaraan dengan seseorang tentang hal tersebut. Ini baru terjadi beberapa minggu yang lalu.

Ceritanya pada saat itu aku baru saja melakukan perjalanan dinas ke Cepu. Mungkin ini adalah suatu keuntungan jika melakukan perjalanan dinas dan lokasi kantor tempat kita bekerja ada di luar Jawa. Hal seperti ini biasanya dimanfaatkan untuk pulang ke kampung halaman. Apalagi sekarang kondisinya keluarga memang ditinggalkan di Jawa. Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan. Meskipun badan capek karena cuma tersisa waktu satu hari saja ya tetep dilakoni.


Pulang ke rumah disambut istri dan si kecil yang sudah mulai pinter ngomong. Meski cuma sebentar cukup melegakan. Pagi itu aku langsung pesan tiket pesawat untuk hari minggu sekaligus tiket kereta api untuk sore hari itu juga.

Perjalanan kereta api dari Cilacap ke Jakarta berjalan lancar. Penumpangpun tidak penuh bahkan bisa dibilang kosong. Ini terkait dengan kebijakan Stasiun di Jakarta, bahwa kereta yang bisa masuk ke Gambir hanya kelas eksekutif saja. Sehingga kereta seperti Purwajaya yang aku tumpangi sekarang harus turun di Stasiun Senen. Untuk kereta api dari Cilacap sampai ke Jakarta kalau sesuai dengan jadwal adalah jam 2 dini hari. Sebagian orang merasa kurang nyaman jika berada di Senen. Entah alasan karena ada preman ataupun memang dari segi tempat tidak senyaman di Gambir. Sedangkan jika di turun di Gambir kondisinya cukup nyaman sekalipun sebagian orang memilih duduk di stasiun menunggu sampai hari terang. Jadi dengan pertimbangan tersebut akhirnya banyak yang beralih ke Travel ataupun Bus.

Seperti biasa, saat itu sampai di Senen jam menunjukkan waktu 1.40. Karena memang tujuan selanjutnya adalah ke Bandara Sukarno-Hatta, aku berinisiatif untuk naik ojek menuju ke stasiun Gambir.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di Stasiun Gambir pada dini hari. Sambil menunggu jam 4 yaitu waktu pemberangkatan Bus DAMRI yang pertama, aku menunggu di warung-warung Stasiun. Komplek warung ini memang baru berdiri kira-kira setahun lebih. Hanya ada satu warung yang buka saat itu. Aku segera memesan pecel lele, makanan yang jarang bisa ditemui di lokasi kerjaku yang sekarang, dan memang tidak banyak pilihan lain kok... Lha wong dini hari jeee... Segelas kopi cukup untuk menghilangkan rasa kantuk. Aku pernah punya pengalaman jelek terkait ngantuk di stasiun ini. Akibatnya.... Seperangkat laptop lenyap!!!  Dan tentu saja hal seperti itu jangan sampai terjadi lagi.

Menunggu memang pekerjaan yang membosankan, apalagi ditambah dengan nyamuk yang banyak. Mau nggak mau keluar kocek lagi buat beli obat gosok... Tapi aku cukup terobati dengan masakannya. Tidak bisa dibilang enak banget tapi karena memang sedang lapar ya nikmat rasanya.
Di sini, duduk di depanku seseorang yang aku lupa entah dia ini seorang pemilik warung, pengelola atau pengurus komplek warung ini. Yang dari tutur katanya menyiratkan bahwa dia ini orang yang terpelajar. Dari mulai masalah teknik, politik, bahkan kejawen begitu fasih keluar dari mulutnya...

Setelah bicara ngalor-ngidul, sampai sepeminuman teh kemudian (meminjam istilah di komik Wiro Sableng), tiba-tiba dia nyeletuk sesuatu hal yang menggelitik.

”Mas, tahu nggak tentang lumpur Sidoarjo?”

“Tentu tahu, kenapa mas?” Jawabku.

”Itu kalau kita jeli sebenarnya sudah ada pertanda atau peringatan terlebih dahulu dari Yang Maha Kuasa. Kalau dicermati sebelum ada kasus Lumpur Sidoarjo, terlebih dahulu adanya yang meledak adalah kasus goyang ngebornya Inul. Dan yang perlu diketahui Inul juga berasal dari Sidoarjo. Jadi kalau dihubung-hubungkan. Awal bencana lumpur Sidoarjo adalah karena adanya pengeboran dari Lapindo.”

”Mungkin itu hanya kebetulan saja,” begitu jawabku lagi...

”Kalau kita mau sedikit waspada, semua tanda-tanda sebenarnya telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa... Dahulu saat jaman banyak bakar-bakaran, tentu mas masih ingat sebelumnya ada lagu yang sangat populer, yaitu ”Anoman Obong”. Kemudian ada lagi sebelum masanya pejabat diobok-obok lagu diobok-oboknya Joshua juga sangat ngetop. Jadi kesimpulannya Alam ini juga terpengaruh dengan sepak terjang manusia penghuninya. Manusianya marah, alam juga bisa marah”...

”Oooo... gitu tho mas”.... Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 4 kurang seperempat, itu artinya aku harus sudah naik bis menuju bandara.

”Ok, mas... Matur Nuwun sudah menemani saya, kapan-kapan kita ngobrol lagi”, demikian aku menutup pembicaraan. Aku segera naik bus sambil membawa bahan renungan goyang ngebor Inul dan Lumpur Sidoarjo.

1 komentar:

  1. Setelah saya baca dan simak dari obrolan selama pejalanan tersebut, saya yakin akan teguran atau peringatan itu sudah jauh diingatkan oleh yang maha kuasa, tetapi manusia memang tempatnya khilaf, tidak dapat melihat adanya perubahan alam yanang sbebnarnya adalah peringatan itu.

    BalasHapus

Baca juga